Wali Kota dan Wawali Tak Hadir

FESTIVAL: Sekjen KKP Irjne (Pol) Antam (kiri) bersama Gubernur dan Kapolda dan Sultan Tidore memukul tifa tanda dibukanya FKNT.

TIDORE - Puncak Festival Kampung Nelayan Tomalou (FKNT) 2020 dibuka Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Irjen (Pol) Antam Novambar, pada Minggu (1/3). Kegiatan yang berlangsung meriah dan sukses ini dihadiri Gubernur Maluku Utara (Malut) KH. Abdul Gani Kasuba, Sultan Tidore Husain Alting Sjah, Kapolda Malut Brigjen (Pol) Rikwanto, Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Konsulat Jenderal Australia, Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman. Sayangnya, kegiatan yang dihadiri Sekjen KKP dan Gubernur ini tidak dihadiri Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tikep, namun hanya diwakilkan ke Asisten II Setda Kota Tikep.

Ketua Panitia FKNT, Ismanto M. Saleh, dalam sambutannya menyampaikan FKNT ini berawal dari sebuah konsep luar biasa dan ide brilian dari pemuda Tomalou. Ide festival ini kemudian disambut positif dan dukungan yang luar biasa dari masyarakat Tomalou. Panitia festival dan masyarakat di Kelurahan Tomalou kemudian bergotong royong menyiapkan segala infrastruktur, baik dalam bentuk tenaga, pikiran, dan anggaran demi kesuksesan event bertemakan kampung nelayan yang baru pertama kali digelar di Kampung Tomalou ini. Anggaran yang digunakan untuk pembiayaan seluruh infrastruktur festival ini, kata Ismanto, berjumlah 80 juta. Semuanya bersumber dari masyarakat, patungan pemuda, sumbangan dari masyarakat Tomalou yang berdomisili diluar, maupun sumbangan sukarela individu dan dukungan penuh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Malut.

Ismanto bilang, festival yang mengusung tema "Menjaring Kekuatan di atas Sampan". Tema yang sederhana, namun mempunya arti yang luar biasa. Tema ini mengandung arti betapa kuatnya persatuan, kekeluargaan dan silaturahmi yang dibangun di atas sebuah sampan atau kapal nelayan. Tentu dibutuhkan kesabaran dan kerja sama, kegigihan dan bertawakal dalam mengarungi lautan, hingga menciptakan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. "Festival ini di awali dengan ritual foladomo, artinya kita menurunkan sebuah kapal baru ke laut yang dilakukan dari sejak nenek moyang kami sampai hari ini. Kami berharap dengan ritual ini, generasi milenial dapat mengetahui sejarah nelayan terdahulu mereka," ujarnya, sembari mengatakan di Tomalou, nelayan adalah pahlawan. Karena dengan melaut, nelayan bisa menafkahi anak mereka hingga sukses menjadi sarjana. "Kami berharap dengan festival ini memberikan spirit bagi nelayan kami untuk terus melaut dan menyumbangkan devisa bagi negara ini," sambungnya.

Sultan Tidore, Husain Alting Sjah, mengatakan festival yang dibuat masyarakat Tomalou ini untuk merajut kembali kebersamaan antara orang-orang yang ada di timur jauh maupun di Eropa untuk datang untuk merajut kembali. Event ini, kata Sultan, merupakan titik awal kebangkitan pariwisata dan kebangkitan nelayan di Kota Tidore khususnya di Tomalou. "Event ini dibuat di kampung yang kecil, tapi skalanya Internasional. Karena dihadiri pula Duta Besar Spanyol dan Konsulat Jenderal Australia," katanya yang disambut tepuk tangan meriah dari masyarakat. Untuk itu, sultan mengajak kepada masyarakat agar menjaga lingkungan sebagaimana dalam slogan festival itu.

Sekjen KKP, Irjen (Pol) Antam, mengapresiasi terselenggaranya festival ini. Dengan segala keterbatasan, kegiatan ini berjalan sukses dan meriah. "Ini nanti kita bicarakan agar masuk event nasional, karena salah satu dari kegiatan festival ini adalah mancing. Ini luar biasa dengan segala keterbatasan, mereka bisa menujukan kemampuannya," ujarnya.

Sementara Gubernur KH. Abdul Gani Kasuba, menyampaikan terima kasih kepada Sekjen KKP yang telah bersedia hadir dan membuka dengan resmi kegiatan festival ini. Gubernur pada kesempatan tersebut menekankan bahwa Sekjen KKP akan menjadikan Tomalou sebagai pusat kampung nelayan di Maluku Utara. (cr-03/lex)