Wakil Rakyat Ramai-ramai 'Melancong', Gedung DPRD Tikep Sepi

Suasana kantor DPRD yang tampak sepi, Senin (25/1/2021). (Foto: Hasbi/malutpost.id)

Tidore, malutpost.id -- Pemandangan tak lazim terjadi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Gedung megah yang terletak di Kelurahan Tongowai, Kecamatan Tidore Selatan kosong melompong. Tidak satupun dari 25 legislator yang terlihat batang hidungnya.

Pintu ruangan komisi yang terletak di lantai dua tampak sepi bahkan terkunci rapat. Tampak hanya beberapa staf administrasi yang lalu lalang di gedung tiga lantai itu.

Pantaun wartawan di halaman parkir juga hanya terlihat satu mobil dinas dengan plat nomor DG 25 TK terparkir.

Informasinya, para wakil rakyat yang terhormat itu baik komisi I,II dan III sedang melakukan kunjungan ke Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. "Katanya mereka ke Weda, tapi kami tidak tahu juga. Nanti tanyakan langsung ke mereka," kata salah satu sumber di kantor itu yang enggan namanya diberitakan, Senin (25/1/2021).

Ketua DPRD Tidore Kepulauan, Ahmad Ishak dan Sekretaris Dewan Ikbal Japono kompak menonaktifkan handphone. Saat dikonfirmasi wartawan, nomornya tidak terhubung.

Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Bumi Hijrah (Unibrah) Tidore, Isra Muksin mengatakan, agenda daerah tidak harus melibatkan semua anggota. Hanya komisi terkait, agar ada keterwakilan wakil rakyat yang standby di kantor DPRD agar pelayanan bisa berjalan.

"Saya tidak bisa bayangkan jika semua wakil rakyat berangkat kemudian ada pengaduan masyarakat terkait aspirasi mereka yang belum sempat tersalurkan tapi anggota DPRD-nya ada di mana," kata Isra.

Ia mempertanyakan, dalam agenda perjalanan dewan tidak bisa membiarkan satu wakil rakyat per komisi untuk melaksanakan tugas di kantor. Atau, lanjut Isra, agenda perjalanan itu sebagai skenario anggota DPRD untuk mengakali perjalanan dalam daerah karena situasi pandemi Covid-19.

"Kalau tipenya seperti itu, maka rusaklah anggota DPRD yang begitu," ujarnya.

Isra menyarankan agar 25 wakil rakyat itu tidak terlalu memikirkan perjalanan dinas melainkan melihat masalah pembangunan. Sebab, menurut Isra, anggaran perjalanan dinas yang besar jika dialihkan untuk pelayanan publik dan pembangunan daerah, maka akan banyak hal yang dibuat daripada menghabiskan ratusan juta dalam seminggu perjalanan. "Mendingan anggaran itu dialihkan ke hal penting dan mendesak," tandasnya. (aby)


-

Peliput : Hasbi Konoras

Editor   : Ikram