Login Berlangganan Dahlan Iskan Ekonomi Politik Akademika Selebrita Ragam Jurnalisme Advertorial Nasional Hukum Opini Video
1 / 3
2 / 3
3 / 3

REDAKSI malutpost.id menerima tulisan pembaca untuk rubrik Opini. Silakan kirimkan tulisan Anda ke email "biro.malutpost@gmail.com". Cantumkan subyek OPINI dan sertakan foto diri closeup dan tanda pengenal resmi.(*)

IMAJINASI SEBUAH DEMOKRASI

#

Oleh : Herman Oesman

Departemen Sosiologi FISIP UMMU

 

JOSE Saramago membuka novelnya, Blindness (2015) dengan sebuah cerita tentang seorang pengemudi taksi yang tiba-tiba mengalami kebutaan di tengah keramaian lalu lintas kota. Sekilas, mata itu tampak sehat, hanya saja sang sopir taksi tak dapat melihat apa-apa. Yang dia rasakan semua serba putih. Hari-harinya dilalui dalam dunia yang serba putih. Saramago, tidak hanya membuat sang sopir mengalami kebutaan, hampir semua warga pada wilayah itu, hingga dokter mata yang memeriksa mata sang sopir bernasib sama. 

Melalui Blindness, Saramago mencoba menggambarkan tentang rumitnya kehidupan. Sebuah distopia. Di mana kehidupan digambarkan seolah-olah semuanya berwarna putih. Orang-orang merasa "sehat". Biasa-biasa saja. Namun, yang dirasakan sebaliknya, tak melihat apa-apa. Orang memahami betul, ada sejumlah persoalan, namun yang terjadi adalah kebutaan. Buta atas apa yang terjadi. Orang tiada hirau tentang persoalan yang mengadang di depan mata. Kita lalu menyerahkan segala urusan kepada orang lain. Kita tak peduli. Kita juga mengalami "kebutaan."

"Is our democracy in danger?" (apakah demokrasi kita dalam bahaya?), demikian kalimat pembuka pada pengantar buku karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, How Democracies Die  (2018:8). Demokrasi terkadang, dan bahkan selalu, membuat kita seakan buta atas yang lain. Atas persoalan-persoalan yang melingkupi kehidupan kita. Menganggap yang lain tidak memahami apa-apa. Padahal sejatinya, kita juga justru berada dalam ketidaktahuan itu. Kita, bersama yang lain juga mengalami 'kebutaan' terhadap lilitan persoalan yang ada. Kemiskinan, tata kelola pemerintahan yang amburadul, lingkungan yang rusak karena keserakahan, ujaran kebencian yang makin meluas, korupsi yang makin menjadi-jadi, penipuan yang merajalela, keteladanan yang makin menipis, dan sebagainya.

Melalui demokrasi, sebenarnya, kerumitan itu dimulai. Berawal dari janji-janji yang ditebar dan ditaburkan melalui kampanye atas nama pembangunan, kita lalu menabalkan kepercayaan banyak orang untuk membangun harapan. Namun, nyatanya, harapan itu seolah dunia yang serba putih. Kita pun bermain-main dengan dunia serba putih itu. Dunia kebutaan. Begitulah, demokrasi yang tengah berlangsung sering diwacanakan sebagai sesuatu yang  ideal. Demokrasi yang menjadi utopia. Bangunan yang diharapkan memberi banyak perbaikan kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik, ketertiban, dan keamanan. Namun, justru kita semaikan praktik demokrasi distopia.

Kita pun terpesona dengan sesuatu yang utopia. Dalam perjalanan panjang demokrasi, yang terjadi kemudian adalah saling mendaku kekuatan massa dan modal. Kekuasaan diraih, namun tak membuat dunia makin berwarna. Sebaliknya, dunia bahkan semakin memutih. Orang tidak lagi saling menguatkan sesama. Sebaliknya, orang makin abai terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Justru yang hadir adalah antar sesama saling melibas, melindas, dan menindas. Praktik kejahatan demi kejahatan, terbentang begitu sempurna di depan mata. Dan, apa yang terjadi? praktik kejahatan itu bahkan makin mengental, menyusup, dan memasuki setiap sel-sel kehidupan tanpa rasa bersalah. 

Kehidupan dengan demokrasi, bukan makin memberi jalan terbukanya cara-cara yang santun dan memberi solusi. Yang terjadi, justru makin teranyam dengan rumit dan begitu carut marut. Kita kemudian pasrah atas keadaan yang ada. Persis apa yang digambarkan Saramago dalam karyanya.

Dengan kehidupan yang ada, berharap hadirnya aktor yang mampu memberi solusi, ternyata setali tiga uang. Aktor pun kemudian terlena, mengaburkan, dan abai atas apa yang terjadi. Aktor pun mengalami kebutaan.

Kita tentu berharap, dengan praktik demokrasi yang menurut banyak ahli dapat mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik, di mana kekuasaan dengan segala otoritasnya dapat menghentikan "kebutaan" yang ada menuju pada kondisi utopia yang diidamkan, namun akhirnya makin memperburuk (distopia), karena mentalitas kita yang belum terasah. 

Banyak harapan yang kita gantungkan pada aktor, karena ambisi berkuasa untuk memperbaiki keadaan begitu menggebu-gebu. Ternyata, hanya melahirkan disilusi (kekecewaan) yang mendalam. Aktor dengan kekuasaan pun kukuh dengan pola laku yang hendak dijunjung dan dihormati melebihi apapun. Padahal, demokrasi mengisyaratkan terciptanya harmoni antara pemegang kekuasaan dan mereka yang tidak punya kekuasaan untuk saling memberi warna, bukan masing-masing merasa buta atas keadaan yang ada.

Saat ini, demokrasi tengah digerakkan untuk meraih kekuasaan dari segelintir orang yang diberi legitimasi oleh partai politik, untuk berkompetisi memenangkan pertarungan. Kewenangan pun diberi garis demarkasi agar tidak saling bertubrukan. Karena itu, demokrasi yang digerakkan, harus dapat menyingkirkan kebutaan atas segala persoalan yang dihadapi, bila kelak kekuasaan itu diraih. Bukan sebaliknya, justru buta dengan segala persoalan yang dialami warganya.

Dengan kekuasaan pula, ruang-ruang demokrasi untuk membuktikan segala janji yang terucap harus dapat diwujudkan dengan segera. Banyak catatan telah memberi pengalaman kepada warga masyarakat, betapa aktor yang dipuja dan suka makan pujian, harus tersungkur di jeruji penjara, atau hilang kewibawaannya hanya karena tidak mampu membuktikan apa yang diucapkannya dengan sombong.

Wilayah demokrasi bukan semata menampilkan siapa kita yang telah dikenal masyarakat, karena gelar, modal, kelincahan (bahkan kelicikan), atau keturunan. Wilayah demokrasi adalah lanskap untuk membuktikan karya. Merubah keadaan yang distopia menjadi utopia. Keadaan yang penuh ketidak-menentuan menuju kondisi yang penuh kepastian. 

Demokrasi merupakan imajinasi, cita-cita besar, harapan, untuk membuka tabir serba putih, kebutaan, menjadi alam nyata yang di mana semua orang  dapat mengenal dengan baik, saling bertegur sapa, saling peduli, memperbaiki dan mengisi kehidupan yang serba kekurangan, dengan penuh kejujuran. Tanpa dendam, benci, dan ketakutan.  Karena itu, dalam politik dan demokrasi, mari membawa amanah yang diberikan dengan rasa cinta. Kekuasaan bukan untuk "makan puji” tapi untuk membuktikan kepemimpinan yang punya muruah dan kemuliaan. (*)

Beri Komentar

Berita Pilihan