Login Berlangganan Dahlan Iskan Ekonomi Politik Akademika Selebrita Ragam Jurnalisme Advertorial Nasional Hukum Opini Video
1 / 3
2 / 3
3 / 3

REDAKSI malutpost.id menerima tulisan pembaca untuk rubrik Opini. Silakan kirimkan tulisan Anda ke email "biro.malutpost@gmail.com". Cantumkan subyek OPINI dan sertakan foto diri closeup dan tanda pengenal resmi.(*)

Yusuf Abdulrahman dimata Ngofa ma Jojo’

#

Oleh : Hudan Irsyadi

(Dosen Antropologi Sosial,FIB Unkhair, Pegiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Maluku Utara; dan Direktur Sosial budaya Sidego)

 

Prolog

Teringat pada tanggal 12 oktober tahun 2011, diakhir sambutan Gubernur Thaib Armayin dalam upacara perayaan HUT provinsi Maluku Utara, terhembus kabar duka tentang kepergian seorang putra terbaik Maluku Utara, Yusuf Abdulrahman. Seketika, suasana menjadi hening. Para peserta upacara larut dalam kedukaan. Sebagian orang yang kenal dekat dengan Yusuf, hatinya terguncang merasa sangat kehilangan. Bahkan terdengar suara yang menggema, yaitu kita telah kehilangan seorang tokoh pendidikan dan tokoh pejuang pemekaran provinsi Maluku Utara. Memasuki tahun ke-9 kepergiannya, sebagaI ngofa ma jojo (putra bungsu) hanya ingin merawat nalar kolektif tentang pentingnya mengenal sosok inspiratif yang banyak menginspirasi, yaitu almarhum Yusuf Abdulrahman. 

Mungkin bagi anak-anak generasi milenial saat ini, sudah tidak familier dengan nama Yusuf Abdulrahman, sang tokoh Pendidikan dan Pengemban Universitas Khairun (Unkhair), Ternate. Mereka lebih disibukkan dengan perkembangan teknologi yang kian hari kian pesat dengan produk inovasinya. Yah, begitulah. Ungkapan bahwa ‘setiap orang ada masanya’ memang benar terasa di zaman sekarang ini. Banyak hal yang bersifat sejarah, terlewati begitu saja bagi anak-anak generasi milenial. Baik itu sejarah kebangsaan (nasional) ataupun sejarah yang lahir dan tumbuh di daerah (tempat asal). Berikut ini sedikit ulasan mengenai memoar dari sang tokoh Utama Pendidikan Maluku Utara dan tokoh Pengemban Unkhair.

Keluarga dan Sekolah Katolik

Lahir pada tanggal 19 Agustus 1938 dengan nama Abdulrahman Yusuf. Belakangan baru namanya berganti Yusuf Abdulrahman. Yusuf dilahirkan di pulau Kayoa, Halmahera Selatan. Sama halnya dengan anak-anak pulau lainya bahwa alam yang menempanya selalu menjadikannya kuat dalam menghadapi hidup. Hal ini juga didukung dari profesi kedua orang tuanya yang sebagai petani. Yusuf dilahirkan dari pasangan Hi. Adam Hi. Yusuf dan Hj. Kalsum Hi. Ridjal. Yusuf mempunyai satu orang saudara laki-laki yang bernama Suleman Hi. Adam. Konon cerita dari marga yang disematkan kepada Yusuf dan saudaranya itu adalah keterhadiran dari kedua orang tua mereka (kakek dan ayah).

Sama seperti kebanyakan orang Maluku Utara yang selalu mengikutsertakan nama orang tua (ayah atau kakek) dalam sebuah penamaan terhadap anak-anak. Namun, yang berbeda di sini adalah Yusuf kecil menggunakan nama sang kakek, sedangkankan saudara laki-lakinya menggunakan nama sang ayah. Terkait kedua orang tua Yusuf kecil (ayah dan kakek), dalam tradisi lisan (sejarah lisan) yang dituturkan dari keluarga mereka, bahwa kedua orang tua Yusuf itu adalah orang hebat yang disegani banyak orang akan kehebatannya (wallahualam bishawab). Kata mereka, kedua orang tua itu “Laki-Laki” (konotasinya: hebat, kuat, berilmu dst.), sehingga penyematan kedua nama orang tuanya, agar kelak mereka menjadi orang hebat dan disegani banyak orang.

Semasa kecil dikalangan anak usianya, Yusuf dikenal sebagai anak yang periang dan lincah, serta selalu menonjolkan sikap kepemimpinannya. Dalam setiap bermain, suaranya yang lantang dan tegas menggema dalam ruang-ruang bermain dan selalu diikuti teman sepermainannya. Hal ini yang diceritakan langsung oleh Salbiah Hi Yusuf, saudara perempuan dari ayahnya. Meskipun Salbiah adalah saudara perempuan dari ayah Yusuf, tetapi usianya yang tak berjarak jauh dengan Yusuf, menjadikannya sebagai teman sepermainan.

Kurang lebih selama 7 tahun, Yusuf kecil menghabiskan masa kecilnya di pulau Kayoa. Seluruh aktivitasnya dilakukan dengan bermain dan sesekali mengikuti ayahnya membawa barang dagangan (hasil bumi) ke Ternate untuk dijual. Aktivitas ini dilakukan hampir enam bulan sekali dalam setahun. Dan tiba waktunya, Yusuf kecil mengambil keputusan menetap di Ternate untuk bersekolah. Sekolah Rakyat (SR) menjadi pijakan pertama Yusuf untuk belajar. Ia menghabiskan waktu 7 tahun untuk menyelesaikan SR-nya. Setelah selesai dari SR (1952), Yusuf pun tak membutuhkan waktu yang lama untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. 

Pada zaman itu sekolah di Maluku Utara (baca; Ternate) sangat terbatas, dan tidak sembarangan orang bisa mengeyam pendidikan dengan baik. Dari terbatasnya sekolah dan kemauan Yusuf inilah yang mengantarkannya untuk bersekolah di luar Maluku Utara. Jawa Timur menjadi pilihannya. Yusuf bersama kakak sepupu, Abdul Chalil, melanjutkan sekolah di situ. Yusuf memilih kota Malang, sedangkan sepupunya memilih Surabaya. Keputusan ini bagi anak seusianya amatlah berat, mengingat Yusuf pada saat itu baru berusia 14 tahun. Tapi dengan penuh keyakinan dan kemauan yang kuatlah, Yusuf pun menjalani semuanya.

Sesampainya di Kota Malang, Jawa Timur, sang Kakak Abdul Chalil memilih untuk belajar (mendalami) ilmu agama Islam di salah satu pesantren di Jawa Timur. Sedangkan Yusuf kecil malah mengambil jalan yang diluar dugaan, yakni bersekolah pada sekolah menengah pertama Katolik. Konon katanya, sekolah tersebut adala sekolah yang khusus menciptakan calon-calon pastor (Frater). Di sekolah itu, Yusuf hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk menamatkan pendidikan pertamanya. Rupanya, Yusuf kecil begitu menikmati proses pembelajaran di sekolah frater, sehingga pada jenjang menegah atas (setara SMA), Yusuf pun melanjutkan di sekolah menengah atas katolik (SMA Frater).

Waktu yang ia tempuh pun, yaitu tiga tahun. Konon katanya, di sekolah frater Katolik (SMP, SMA) para gurunya adalah pastor dari Indonesia, Cina, dan Belanda yang sangat serius dalam pembelajaran. Sama hal yang kita ketahui bahwa hampir sebagian besar sekolah-sekolah katolik di Indonesia selalu menekankan pada kedisiplinan yang tinggi dalam proses belajar mengajar. Hal inilah yang sekiranya membentuk karakter dari seorang Yusuf, yakni karakter tegas dan disiplin dalam bekerja. 

Setelah tamat dari Sekolah Katolik pada tahun 1958, Yusuf mencoba peruntungan dengan merambah ibukota. Fakultas Sastra Universitas Indonesia menjadi pilihannya. Yusuf yang lincah dan penuh bakat ini ternyata tidak menyelesaikan studinya disitu. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berorganisasi. Sebagai generasi kedua Himpunana Mahasiswa Islam (HMI), yang dikenal dengan angkatan 66. Hampir 2 tahun Yusuf berada di ibukota, dan akhirnya ia memutuskan kembali melanjutkan studinya. Berkeinginan sebagai pendidik, Yusuf pun memilih untuk melanjutkan di FKIP Universitas Hasanudin di Manado, hingga memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1964. Dengan gelar sarjana muda, Yusuf pun kembali ke Ternate untuk mengabdi.

Yusuf pun diperkejakan sebagai pegawai kantor Bupati Maluku Utara. Dan di saat yang sama Universitas Khairun pun didirikan, yakni pada tahun 1964. Dalam proses pendirian Unkhair, Yusuf tidak terlibat secara langsung tetapi ia banyak menyumbangkan ide dan gagasan. Salah satu gagasannya adalah soal ketersediaan perguruan tinggi di daerah, yang menurut Yusuf akan berdampak pada perjuangan pemekaran provinsi Maluku Utara kedepan. Meski kita tahu bersama bahwa perjuangan pemekaran provinsi Maluku Utara membutuhkan waktu yang amat panjang. 

Membaca pemikiran Yusuf, ada benarnya juga. Di mana, ia melihat rentang kendali antara Maluku Utara dengan provinsi Maluku menjadi faktor utama. Sebagai orang yang gemar membaca buku-buku sejarah, maka disampaikan alasan tersebut. Alasannya bahwa negeri rempah-rempah yang dimaksudkan oleh bangsa asing itu adalah wilayah Maluku Utara (Moloku Kie Raha), bukan Maluku, sehingga pemekaran provinsi harus dilanjutkan sebagai bentuk dari upaya pemerintah pusat menghargai para pendahulu (para Sultan) dalam memperjuangkan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selanjutnya Yusuf dimintai oleh Bupati M. Syamil Djahir untuk mengelola Unkhair, meskipun ia juga tercatat sebagai pegawai pamong praja di Kabupaten Maluku Utara. 

 

Tokoh Utama Pendidikan di Maluku Utara

Dalam sambutan pelepasan jenazah almarhum (alm.) Yusuf Abdulrahman, rektor saat itu, Gufran A. Ibrahim, mengatakan bahwa almarhum adalah seorang yang multitalenta. Kemampuan atau bakat akuntasinya dalam mengelola keuangan Unkhair yang pada saat itu hampir sakratul maut, dapat diatasi dengan kemampuan manajemennya. Gufran pun menambahkan, bahwa di tangan Yusuf ia berhasil melahirkan 20 doktor dan ratusan magister, termasuk dirinya. Di akhir sambutan, Gufran menegaskan kembali bahwa alm. Yusuf adalah Tokoh Utama Pendidikan Maluku Utara, dan tokoh Pengemban Unkhair, yang ide dan gagasannya perlu untuk diteruskan. Hal senada pernah dikatakan anak perempuan semata wayangnya, Nurhasanah Yusuf, bahwa sebagai seorang yang amat mencintai Unkhair, dihari kepergiannya, alm.Yusuf dikelilingi oleh orang-orang Unkhair. Alm. Yusuf Abdulrahman tercatat menjabat Rektor Unkhair (Yayasan Pendidikan Khairun) dari tahun 1983-1998.

Tak dapat dipungkiri bahwa kesukaan Yusuf terhadap pendidikan ini terlihat tatkala ia memilih untuk melanjutkan studi pada FKIP Unhas di Manado, dengan meninggalkan Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang sudah ia jalani perkuliahan selama 2 tahun. Pada saat itu, Yusuf termasuk salah satu dari dua putra terbaik Maluku Utara yang bersekolah di UI, bersama Abdul Gafur. Jiwa Yusuf meronta. Ia berkeinginan untuk menjadi guru guna mencerdaskan anak-anak di kampungnya (Maluku Utara). Oleh karena itu ia memilih jurusan profesi guru. Gelar sarjana muda (BA) didapatkan Yusuf pada FKIP Unkhas di Manado (1964), sedangkan untuk sarjana strata satu (S1) ia peroleh pada FKSS IKIP Malang tahun 1970.

Semasa kuliah di Manado, Yusuf dikenal sebagai pribadi yang mandiri. Ia tidak pernah bergantung sepenuhnya kepada kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani. Kuliah sambil kerja pun ia lakoni. Yusuf pernah bekerja sebagai karyawan di toko buku Borobudur, Manado, yang terletak di jalan Wanea Samrat, sampai dengan mengajar di SMP Muhammadiyah Manado. Bahkan di SMP Muhammadiyah, Yusuf pernah menjabat sebagai kepala sekolah (1960-1964). Kepedulian Yusuf terhadap pendidikan ini sebenarnya sudah terasah jauh sebelum ia kembali ke daerahnya. Di mana, Yusuf juga pernah tercatat sebagai pengajar di SD Cokroaminoto, Manado, yang terletak di kelurahan Wonasa.

Sekembalinya Yusuf dari Manado di medio tahun 1964, di tahun itu juga ia pun diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (Depdagri). Meskipun sebagai pegawai negeri sipil, ia selalu dimintai oleh Bupati M.S. Djahir terkait pengelolaan pendidikan di Maluku Utara yang salah satunya adalah Unkhair.

Memang pada waktu itu, M.S. Djahir di samping bupati, ia juga menjabat sebagai rektor pertama Unkhair. Kata Yusuf, pada waktu itu orang yang datang dari disiplin ilmu pendidikan sangat dibutuhkan daerah. Bahkan Yasin Muhammad yang pada saat itu sudah diangkat menjadi dosen di Manado pun dilibatkan, karena keterbasan tenaga pendidik. Lanjut Jusuf, jangankan yang bersarjana pendidikan, diluar dari sarjana itu pun juga masih sangat terbatas. Yusuf kemudian bersama seniornya Yasin Muhammad, dimintai keterlibatannya dalam mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ternate pada tahun 1966.

Rupanya Yusuf begitu memahami kondisi daerahnya pada saat itu. Di samping terlibat dalam mendirikan Unkhair dan Stain, Yusuf kemudian memprakarsai berdirinya SMA Islam Ternate. Di mana ia pernah menjabat kepala sekolah (1964-1966) di situ. Perjuangan Yusuf terhadap pendidikan mempunyai tujuan yang mulia yaitu untuk mencerdaskan anak bangsa. Baginya, pendidikan adalah hal yang utama dan pertama dalam kehidupan (keluarga). Sebagai orang yang sering terlibat dalam pembangunan daerah, bahwa alasan mendirikan beberapa sekolah dan perguruan tinggi itu adalah tentang rentang kendali pendidikan di Maluku Utara. Ketersedian layanan pendidikan (sekolah dan pergurua tinggi) ini juga mempunyai alasan tersirat, yaitu sebagai usaha untuk memekarkan Maluku Utara menjadi provinsi.

Yusuf termasuk rektor yang memimpin Unkhair cukup lama paska rektor sebelumnya, M.S. Djahir dan Abdul Samad Abdul Latif. Di masa kepemimpinannya, Unkhair mengalami pasang surut. Dengan penuh keyakinan dan kejelian, Yusuf tetap kukuh pada pendiriannya dalam mengembangkan Unkhair di masa depan, meskipun Unkhair pada saat itu dalam posisi terpuruk. Waktu terus berjalan, 15 tahun memimpin Unkhair bukanlah perkara yang mudah dengan kondisi Unkhair yang dikatakan Gufran di atas, berada dalam kondisi ‘sakratul maut’. Unkhair hampir saja di tutup.

Hal ini sejalanan dengan apa yang diceritakan Yusuf, bahwa ia pernah menggadaikan sertifikat tanah milih istrinya hanya untuk menutupi biaya operasional Unkhair. Baginya, berkorban untuk kepentingan yang lebih besar, niscaya kita akan mendapat imbalan yang lebih besar dari Allah SWT. Seiring waktu terus berjalan, kondisi keuangan Unkhair pun mulai membaik ketika Yusuf berhasil meyakinkan pengusaha-pengusaha hasil bumi di Maluku Utara untuk membantu dari segi pendanaan. Tak sampai disitu, koleganya semasa kuliah dan aktif di organisasi pun menjadi jembatan Yusuf dalam mengembangkan Unkhair. Ketika ia merasakan kepemimpinannya sebagai rektor cukup lama, ia pun berpikir untuk meninggalkan Unkhair. Tahun 1998 Yusuf meninggalkan jabatanya, dan digantikan dengan Rivai Umar. Namun di sini, Yusuf tidak berdiam diri untuk memikirkan Unkhair kedepan.

Bersama dengan rektor, Rivai Umar, Yusuf memikirkan untuk menegerikan Unkhair. Proses penegerian pun sudah diusulkan beberapa kali tetapi masih dipertimbangkan oleh pemerintah. Angin segar penegerian itu tatkala Abdul Malik Fadjar menjadi menteri Pendidikan kabinet Gotongroyong. Diceritakan, Malik Fadjar adalah teman Yusuf sewaktu ia kuliah di Malang dan juga teman di organisasi HMI Malang. Maka pada titik ini, Yusuf menyarankan kepada Rivai untuk memperbaki dokumen penegerian Unkhair kemudian diusulkan kembali. Alhasil, melalui keputasan presiden saat itu, Megawati Soekarnoputri tertanggal 17 Maret 2004 Unkhair dialih status menjadi perguruan tinggi negeri.

Dengan menyerahkan Unkhair ke pemerintah, tidak serta-merta membuat Yusuf berhenti memikirkan pendidikan di Maluku Utara. Melalui yayasan Pendidikan Baabullah, yang merupakan turunan dari Yayasan Pendidikan Khairun paska dinegerikan, ia mendirikan sebuah sekolah menengah atas, atau yang lebih dikenal sebagai sekolah unggulan pada tahun 2004. SMA Unggulan Baabullah inilah yang kemudian dikenal sekarang sebagai SMA Negeri 8 Ternate. Sebenarnya, ide untuk mendirikan sekolah unggulan ini tak lain adalah untuk memajukan pendidikan di Maluku Utara agar mampu bersaing dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Konsep yang ditawarkan ke pemerintah provinsi yaitu membayar gaji guru yang tinggi. Hal ini dikarenakan Yusuf melihat tingkat kesejahteraan guru belum sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. 

Pada waktu itu, honor per jam mengajar di SMA Unggulan sebesar 50.000/jam. Honor ini 2 kali lipat lebih besar dari sekolah-sekolah yang ada di kota Ternate. Bagi Yusuf, jika guru sejahtera maka ia akan merasakan tanggung jawab yang begitu besar dalam mencerdaskan anak bangsa. Konsep lain dari SMA Unggulan yang menjadi harapannya yaitu bertaraf Internasional. Namun gagasan Yusuf ini mendapat banyak cemoohan dari sebagian orang, serta dukungan yang belum maksimal dari pemerintah provinsi yang mengaharuskannya menyerahkan SMA Unggulan Baabullah kepada pemerintah Kota Ternate. SMA Unggulan boleh berubah nama menjadi SMA 8 Negeri Ternate, tetapi bagi masyarakat Maluku Utara, SMA Negeri 8 adalah SMA Unggulan.

Epilog 

Yusuf Abdulrahman adalah seorang guru terbaik dalam keluarga dan masyarakat. Ungkapan ini disampaikan oleh Darsis Humah (anak didik alm.)dalam acara Haul ke-5 alm. Yusuf di gedung rektorat Unhair tahun 2016. Hal yang sama juga disampaikan Kasman Hi Ahmad (mantan rektor Universtias Muhammadiyah Malut.) bahwa alm. Yusuf Abdulrahman merupakan seorang tokoh intelektual Maluku Utara yang banyak berjasa di bidang pendidikan. Lanjut Kasman, banyak dari beliau yang mengispirasi kaum cerdik pandai di Maluku Utara. Kasman bilang, alm. Yusuf bukan hanya tokoh pendidikan semata. Ia bagaikan rumah besar pengetahuan yang meneduhkan kita semua. Bagi kami dari keluarga alm. hanya menyampaikan ucapan terimakaih atas apresiasinya, karena itu semua adalah amal buat ayahanda tercinta (Nurhasanah). 

Sambutan Gufran dalam pelepasan jenazah alm. Yusuf, menegasikan bahwa alm. adalah tokoh utama dalam pembangunan pendidikan di Maluku Utara. Gufran mengakui, bahwa kita (unkhair dan Maluku Utara) kehilangan tokoh panutan yang multitalenta. Gufran pun menambahkan, bahwa pemikiran-pemikiran relevan alm. dalam pengembangan pendidikan di Maluku Utara Insya Allah akan dilanjutkan bagi siapa saja yang mengenal alm. Yusuf. (*)

Beri Komentar

Berita Pilihan